Monday, March 30, 2009
KTSP Go International ? Why Not
“Teaching Primary Science and Maths in English: Its Challenges and Benefits” adalah tema seminar yang aku ikuti hari Sabtu 28 Maret 2009 kemarin. Yang diselenggarakan oleh toko buku Fanross bekerja sama dengan penerbit Pearson Longman.

Menarik juga temanya, tapi tidak seindah yang aku bayangkan. Karena tema dan kenyataannya tidak sesuai. Terbayang olehku bagaimana mengajarkan science dan maths yang menarik dalam bahasa inggris. Ternyata yang dibahas ngak nyambung. Pembicara pertama ibu Itje Chodijah mengulas tentang KTSP yang mampu go international, sedangkan pembicara kedua Cindy Richard membahas tentang grammer dalam taxtbook.

Meskipun "jaka sembung naik becak" ada yang menarik, yaitu paparan tentang KTSP Go International. Memang itu sesuatu yang bisa terjadi. Namun perlu tenaga ekstra, karena kita kekurang sumber daya manusia yang mampu untuk mengantarkan keinginan tersebut.

Sebaik apapun kurikulum tapi kalau kita tidak punya SDm yang mampu mengaplikasikan, maka dia tetaplah sekumpulan kertas yang tersusun rapi dan akan menjadi bukukan, berjamur di rak buku.

Bagaimana kita mampu untuk menjawab tantangan tersebut, jika mesin pencetak guru itu hanya mampu mencetak guru sebagai pelaksana bukan sebagai seorang perencana, penggagas yang mampu untuk melaksanakan ide-idenya.

Itulah fakta yang ada. Sebaik apapun kurikulum yang kita miliki meskipun bisa bersaing dengan dengan kurikulum luar negeri secara isi, tapi kalau SDM-nya tetap seperti ini. Mimpi kaliiiiii yeeeeeee
 
posted by Rini at 4:43 AM | Permalink | 1 comments
Saturday, February 14, 2009
Nuansa Bening
oh tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku
biasa saja

waktu perkenalan terjalin sudah
ada yang menarik pancaran diri
terus mengganggu

mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

oh tiada kejutan pesona diri
pertama kujabat jemari tanganmu
biasa saja

masa perkenalan lewatlah sudah ada
yang menarik bayang-bayangmu
tak mau pergi

dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat

akan tumbuh kembangkan
kasih yang kau tanam
di dalam hatiku

menatap nuansa-nuansa bening
jelasnya doa bercita

Nice song, i like it so much.
 
posted by Rini at 11:51 PM | Permalink | 0 comments
Monday, November 03, 2008
Nasehat dari Ustadzah Ima
Aku minta pada Allah setangkai bunga segar
Ia beri aku kaktus berduri
Aku minta pada Allah binatang mungil cantik
Ia beri aku ulat berbulu
Aku sedih, protes , dan kecewa
Betapa tidak adilnya
Kemudian kaktus itu berbunga indah dan
ulat menjadi kupu-kupu yang cantik
Itulah jalan Allah, selalu indah pada waktunya
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan
tetapi Ia memberi yang kita butuhkan
Sedih, kecewa, terluka tapi di atas segalanya
Ia sedang merajut untuk kehidupan
Banyak rahasiaNya yang belum terungkap
Semoga kita termasuk orang yang bersyukur dan sabar

Jeng Ima... terima kasih atas perhatianmu dan waktumu untukku. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dan memberikan yang terbaik untuk kita semua. You are really my a shoulder to cry on.
 
posted by Rini at 5:21 AM | Permalink | 0 comments
Friday, October 31, 2008
Revisi Anggaran
Betapa terkejutnya saat aku (26 Oktober) mengetahui e-billing untuk penggunaan internetku, 1001 Mb. Padahal quota yang aku pilih untuk paket ECO FIT adalah 700 Mb, berarti aku sudah melewatnya hamper 50% dari quotanya. Terbayang berapa tagihan yang nanti akan aku bayar di bulan Nopember, padahal jatah untuk quota masih 1 minggu lagi. Kesimpulannya aku harus puasa untuk berselanjar dari peraduanku dan menunggu 1 Nopember 2008 dini hari di dari Sabtu mendatang.

Sudah pasti kejadian ini menyebabkan aku harus melakukan revisi estimasi keuanganku yang sudah aku buat untuk rentang Oktober 2008 sampai Maret 2009. Untuk bulan Oktober tidak masalah karena sudah berhampir berakhir, tapi untuk bulan Nopember dan berikutnya harus mengalami perubahan.

Secara normal jika aku tidak melebih quotaku maka aku hanya mengeluarkan uangan sebesar Rp 259.000,00 di tambah pajak 10% menjadi Rp 284.900,00. Sedangkan untuk bulan Nopember ini aku harus mengeluarkan uang untuk tagihan e-billing-ku sebesar : Rp 259.000,00 + (Rp 0,4 x (1001-700) x 1024) = Rp 322.289,6 itu belum ditambah pajak 10%. Jadi e-billing yang harus aku bayar nanti adalah Rp 420.518,56.

Pengalaman itu betul-betul: guru terbaik, mahal, dan mendewasakan proses berpikir seorang anak manusia yang berpikir.
 
posted by Rini at 12:19 PM | Permalink | 0 comments
Monday, August 18, 2008
Na'ilah Nur Amalina
Na'ilah Nur Amalina, itulah satu dari Generasi Robbani yang diamanahkan kepadaku saat ini. Begitu cantik namamu secantik rupamu, secemerlang pikiranmu, dan se-tawadhu' budi pekertimu. Alangkah bangganya orang tuamu padamu dan betapa beruntungnya aku dapat ikut serta mewarnai perjalanan hidupmu dengan mendampingimu meraih cita-citamu.

Jum'at 15 Agustus 2008, saat pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ustad Andik menerangkan tentang Rukun Iman. Dengan bergulirnya waktu, disaat menjelang akhir waktu pembelajaran dengan kepolosan dan rasa ingin tahunya, "Ustad apa perbedaan nabi dan rasul ?" tanya Na'ilah. "Subhanallah begitu cemerlang pertanyaanmu nak", takjub aku mendengarnya. Terus terang pertanyaan tersebut juga aku tunggu-tunggu dari kalian semua. Dengan semangat ustad Andik menjelaskankan. Dan disaat membahas tentang Qadha dan Qadar, dari bibir mungilnya terlontar pertanyaan yang luar biasa lagi darinya "Ustad...apa itu Qadha dan Qadar ?" Dengan rasa takjub "Na'ilah... gigi Na'ilah itu kan ompong yang depan maka itu contoh qadha, sesuatu yang telah terjadi tapi kalalu Na'ilah dan teman-teman berkeinginan untuk menjadi Sang Juara dan Excellent maka itu Qadar" dengan senyuman dan rasa sayang ustad Andik menjelaskan dan dengan tersipu malu-malu Na'ilah memahamni uraian ustad Andik.

"Untuk Generasi Robbaniku selamat berjuang mengapai cita-citamu".
 
posted by Rini at 6:25 AM | Permalink | 0 comments
Saturday, August 02, 2008
2 Agustus dalam Hidupku, part 1
Sekarang adalah 2 Agustus 2008. Ada dua peristiwa penting yang tak bisa aku lupakan di tanggal tersebut. Peristiwa yang menyedihkan, menegangkan, dan menyenangkan.

Yang pertama adalah 2 Agustus 1996, merupakan peristiwa yang menyedihkan bagiku dan keluargaku. Karena di waktu tersebut kita harus berpisah untuk selamanya dengan Bapak tercinta kami Alm Choliq Sarkawi untuk selama-lamanya. 10 bulan beliau berjuang melawan berbagai penyakit. Berbagai penyakit karena di saat masuk rumah sakit (baca rawat inap) yang pertama, penyempitan pembulu jantung menghinggapi beliau. Sejak saat itu kondisi beliau mengalami penurunan dan parkinson adalah vonis dokter terakhirnya.

Jatuh di kamar mandi saat persiapan shalat dhuhur adalah awal dari anfal beliau yang kedua. Sejak itu bapak mengalami kelumpuhan motorik (tidak bisa berjalan). Ada bentuk pertentangan di awal anfal beliau yang kedua ini, kami menginginkan pertolongan secepatnya (membawa beliau ke rumah sakit namum beliau menolak). Maka selama semalam suntuk bapak selalu mengaji dan meyakini bahwa cobaan yang Allah berikan kepada umatNya itu sesuai dengan kapasitas umatNya. Itulah doa yang beliau baca (beliau berulang-ulang membaca surat Al Baqarah terakhir "...Lillahimafisama wati wal ardh..) sampai Al Baqarah surat terakhir sampai beliau merasa letih dan mengantuk.

Namun tidur bapak itu membuat beliau tidak sadarkan diri sehingga kami memanggil ambulan untuk membawa beliau ke rumah sakit Darmo kembali (anfal pertama bapak juga dirawat disana). Lebih dari 2 minggu bapak di rawat di ICCU. Dari diagnosa dokter ternyata penyakit bapak sekarang tidak hanya penyempitan pembulu jantung namun bertambah dengan stroke. Stroke ini adalah awal dari penyakit parkinson yang bapak derita di akhir hayatnya.

Lebih dari 1 bulan kami bergantian untuk menemani beliau dan berbagi tugas. Diantaranya aku harus menghadiri pengumuman kelulusan adikku Ardi di SMPN 2 Surabaya. Terbesit rasa sedih melihat orang tua dari teman-teman adikku yang menghadiri pertemuan itu. Terbayang betapa cemburunya perasaan adikku melihat fakta tersebut tapi itulah kondisi yang harus membuat kita menjadi bijaksana dalam menghadapi hidup ini.

Sepulang dari pertemuan itu kita langsung ke rumah sakit untuk mengkabarkan berita gembira tersebut. Alhamdulillah Ardi 1 dari 10 peraih DANEM tertinggi di sekolahnya. Itu adalah sedikit yang bisa kami berikan kepada bapak kami sebagai satu dari wujud bakti kami, prestasi akademis.

Sepulang dari rumah sakit, bapak melanjutkan terapi motorik di rumah dengan terapis yang menerapi beliau di rumah sakit. Alhamdulillah ada perkembangan. Bapak bisa berdiri dan duduk di kursi roda.

Minggu menjelang anfal bapak ketiga, semua tetangga yang selesai kerja bakti mampir ke rumah untuk menjenguk dan memotivasi beliau. Kebetulan ibu tidak bisa menemani bapak saat itu, karena harus menghadiran pertemuan orang tua di sekolah baru adikku SMAN 5 Surabaya (Alhamdulillah adikku berhasil masuk di SMAN terbaik Surabaya) sehingga di rumah hanya ada kami anak-anaknya.

Sepulang para tetangga, tinggal aku dan bapak yang ada di lantai 1, ada peristiwa yang syahduh yaitu beliau melafalkan ...Man Robbuka...(sampai selesai). Spontan aku bertanya kepada beliau tentang kalimat tersebut. "Tidak apa-apa", jawabnya dengan suara pelan.

Senin pagi selepas ibu mengantar adikku berangkat di pintu pagar rumah kami, ibu membangunkan beliau untuk shalat subuh (Alhamdulillah meskipun sakit bapak masih shalat). Aku salut dengan semangat beliau dengan ketebasan memory, beliau masih melaksanakan kewajibannya. Fakta baru harus kami hadapi semua karena bapak sudah tidak sadarkan diri, maka kami membawa beliau ke RS Dr. Soetomo. Kali ini kami tidak membawanya ke RS Darmo seperti sebelumnya karena kami berharap bapak mendapat penanganan dari para dokter yang lebih senior pengalamnya. Apa yang kami inginkan tercapai, dokter yang senior ahli di penyakit bapak berkolaburasi dengan dokter yang merawat bapak sebelumnya.

Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena kondisi bapak yang begitu kritis. Jadi kita hanya menunggu waktu. Dari kondisi itu sepulang dari rumah sakit ibu menyuruhku untuk menemui teman bapak, Pak Ali untuk menanyakan pengobatan alternatif yang belum sempat kami coba. Dari pertemuan tersebut banyak nasihat yang pak Ali berikan kepadaku sehingga dari awal sampai akhir pertemuan aku hanya bisa menangis."Hanya ada dua pilihan yang Allah berikan kepada keluargamu saat ini yaitu kesembuhan bapakmu atau kematiannya dan itu harus siap dihadapi karena Allah menciptakan semuanya berpasangan. Untuk itu tolong temui teman-teman bapakmu untuk meminta maaf buat bapakmu kepada manusia tak luput dari khilaf. Dan itu akan memudahkan jalan bapakmu jika Allah menakdirkan kesembuhan buatnya dan memudahkan jalan menghadap Allah jika Allah menakdir kematiannya". Itulah satu dari nasihat pak Ali teman takmir bapak di masjid Al Islam.
Aku juga menemu Pak Nono guru aku dan adikku di bimbingan belajar untuk meminta nasihat, semua anak-anak bapak berusaha. Dan nasihat yang lain diantaranya kami semua dianjurkan untuk shalat tahajud, kebetulan pada waktu itu hari Kamis. Dan malam terakhir bapak di dunia ini.

Jum'at pukul 7 pagi, aku bersiap untuk menuju rumah sakit tapi telepon berdering mengabarkan kalau bapak meninggal. Tersentak hati ini mendengar kabar tersebut, langsung saja aku bangunkan kakak sulungku untuk meluncur ke rumah sakit dengan di temani sahabat bapak Pak Nurhadi dan aku kabarkan berita itu ke keluarga dan tetangga untuk meminta pertolongan.

Itulah satu bagian dari perjalananku hidupku. Dari peristiwa itu aku baru menyadari bahwa selama hampir 22 tahun kebersamaanku dengan bapakku, aku belum mengenal betul tentang sosok perjuangan bapakku. Banyak cerita yang aku dapat tentang beliau dari teman-teman beliau, dan keluarga saat takziyah yang belum aku tahu.

Jujur sejak bapak sakit, hati ini selalu berdebar-debar saat telepon berdering kala bapak dirawat dirumah sakit. Dari kondisi ini aku teringat akan pengalaman temanku Izma yang bercerita tentang "Noto ATI". Ayah Izma sebelum meninggal beliau mengidap penyakit tahunan, seluruh keluarga sudah berusaha maka di suat saat ibunya mengumpulkan seluruh anaknya dan memberi nasihat "Kalian sudah tahu penyakit dan kondisi ayah, kita juga sudah berikhtiar namun kita juga harus Noto Ati untuk siap berpisah dengan ayah". Dari cerita itu aku belajar banyak untuk menghadapi saat berpisah dengan bapak.

...kematian juga adalah jalan terbaik bagi setiap manusia yang telah dihisab dosanya melalui sakit yang diderita dan merupakan ladang ibadah bagi yang merawatnya dengan sabar dan yang tidak meratapi hal itu.
 
posted by Rini at 5:53 AM | Permalink | 1 comments
Wednesday, July 30, 2008
Doa Istikharah
"Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamakku dan jalan hidupkku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dari ku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu". (HR Al Bukhari)
 
posted by Rini at 6:42 AM | Permalink | 0 comments