Sekarang adalah 2 Agustus 2008. Ada dua peristiwa penting yang tak bisa aku lupakan di tanggal tersebut. Peristiwa yang menyedihkan, menegangkan, dan menyenangkan.
Yang pertama adalah 2 Agustus 1996, merupakan peristiwa yang menyedihkan bagiku dan keluargaku. Karena di waktu tersebut kita harus berpisah untuk selamanya dengan Bapak tercinta kami Alm Choliq Sarkawi untuk selama-lamanya. 10 bulan beliau berjuang melawan berbagai penyakit. Berbagai penyakit karena di saat masuk rumah sakit (baca rawat inap) yang pertama, penyempitan pembulu jantung menghinggapi beliau. Sejak saat itu kondisi beliau mengalami penurunan dan parkinson adalah vonis dokter terakhirnya.
Jatuh di kamar mandi saat persiapan shalat dhuhur adalah awal dari anfal beliau yang kedua. Sejak itu bapak mengalami kelumpuhan motorik (tidak bisa berjalan). Ada bentuk pertentangan di awal anfal beliau yang kedua ini, kami menginginkan pertolongan secepatnya (membawa beliau ke rumah sakit namum beliau menolak). Maka selama semalam suntuk bapak selalu mengaji dan meyakini bahwa cobaan yang Allah berikan kepada umatNya itu sesuai dengan kapasitas umatNya. Itulah doa yang beliau baca (beliau berulang-ulang membaca surat Al Baqarah terakhir "...Lillahimafisama wati wal ardh..) sampai Al Baqarah surat terakhir sampai beliau merasa letih dan mengantuk.
Namun tidur bapak itu membuat beliau tidak sadarkan diri sehingga kami memanggil ambulan untuk membawa beliau ke rumah sakit Darmo kembali (anfal pertama bapak juga dirawat disana). Lebih dari 2 minggu bapak di rawat di ICCU. Dari diagnosa dokter ternyata penyakit bapak sekarang tidak hanya penyempitan pembulu jantung namun bertambah dengan stroke. Stroke ini adalah awal dari penyakit parkinson yang bapak derita di akhir hayatnya.
Lebih dari 1 bulan kami bergantian untuk menemani beliau dan berbagi tugas. Diantaranya aku harus menghadiri pengumuman kelulusan adikku Ardi di SMPN 2 Surabaya. Terbesit rasa sedih melihat orang tua dari teman-teman adikku yang menghadiri pertemuan itu. Terbayang betapa cemburunya perasaan adikku melihat fakta tersebut tapi itulah kondisi yang harus membuat kita menjadi bijaksana dalam menghadapi hidup ini.
Sepulang dari pertemuan itu kita langsung ke rumah sakit untuk mengkabarkan berita gembira tersebut. Alhamdulillah Ardi 1 dari 10 peraih DANEM tertinggi di sekolahnya. Itu adalah sedikit yang bisa kami berikan kepada bapak kami sebagai satu dari wujud bakti kami, prestasi akademis.
Sepulang dari rumah sakit, bapak melanjutkan terapi motorik di rumah dengan terapis yang menerapi beliau di rumah sakit. Alhamdulillah ada perkembangan. Bapak bisa berdiri dan duduk di kursi roda.
Minggu menjelang anfal bapak ketiga, semua tetangga yang selesai kerja bakti mampir ke rumah untuk menjenguk dan memotivasi beliau. Kebetulan ibu tidak bisa menemani bapak saat itu, karena harus menghadiran pertemuan orang tua di sekolah baru adikku SMAN 5 Surabaya (Alhamdulillah adikku berhasil masuk di SMAN terbaik Surabaya) sehingga di rumah hanya ada kami anak-anaknya.
Sepulang para tetangga, tinggal aku dan bapak yang ada di lantai 1, ada peristiwa yang syahduh yaitu beliau melafalkan ...Man Robbuka...(sampai selesai). Spontan aku bertanya kepada beliau tentang kalimat tersebut. "Tidak apa-apa", jawabnya dengan suara pelan.
Senin pagi selepas ibu mengantar adikku berangkat di pintu pagar rumah kami, ibu membangunkan beliau untuk shalat subuh (Alhamdulillah meskipun sakit bapak masih shalat). Aku salut dengan semangat beliau dengan ketebasan memory, beliau masih melaksanakan kewajibannya. Fakta baru harus kami hadapi semua karena bapak sudah tidak sadarkan diri, maka kami membawa beliau ke RS Dr. Soetomo. Kali ini kami tidak membawanya ke RS Darmo seperti sebelumnya karena kami berharap bapak mendapat penanganan dari para dokter yang lebih senior pengalamnya. Apa yang kami inginkan tercapai, dokter yang senior ahli di penyakit bapak berkolaburasi dengan dokter yang merawat bapak sebelumnya.
Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena kondisi bapak yang begitu kritis. Jadi kita hanya menunggu waktu. Dari kondisi itu sepulang dari rumah sakit ibu menyuruhku untuk menemui teman bapak, Pak Ali untuk menanyakan pengobatan alternatif yang belum sempat kami coba. Dari pertemuan tersebut banyak nasihat yang pak Ali berikan kepadaku sehingga dari awal sampai akhir pertemuan aku hanya bisa menangis
."Hanya ada dua pilihan yang Allah berikan kepada keluargamu saat ini yaitu kesembuhan bapakmu atau kematiannya dan itu harus siap dihadapi karena Allah menciptakan semuanya berpasangan. Untuk itu tolong temui teman-teman bapakmu untuk meminta maaf buat bapakmu kepada manusia tak luput dari khilaf. Dan itu akan memudahkan jalan bapakmu jika Allah menakdirkan kesembuhan buatnya dan memudahkan jalan menghadap Allah jika Allah menakdir kematiannya". Itulah satu dari nasihat pak Ali teman takmir bapak di masjid Al Islam.
Aku juga menemu Pak Nono guru aku dan adikku di bimbingan belajar untuk meminta nasihat, semua anak-anak bapak berusaha. Dan nasihat yang lain diantaranya kami semua dianjurkan untuk shalat tahajud, kebetulan pada waktu itu hari Kamis. Dan malam terakhir bapak di dunia ini.
Jum'at pukul 7 pagi, aku bersiap untuk menuju rumah sakit tapi telepon berdering mengabarkan kalau bapak meninggal. Tersentak hati ini mendengar kabar tersebut, langsung saja aku bangunkan kakak sulungku untuk meluncur ke rumah sakit dengan di temani sahabat bapak Pak Nurhadi dan aku kabarkan berita itu ke keluarga dan tetangga untuk meminta pertolongan.
Itulah satu bagian dari perjalananku hidupku. Dari peristiwa itu aku baru menyadari bahwa selama hampir 22 tahun kebersamaanku dengan bapakku, aku belum mengenal betul tentang sosok perjuangan bapakku. Banyak cerita yang aku dapat tentang beliau dari teman-teman beliau, dan keluarga saat takziyah yang belum aku tahu.
Jujur sejak bapak sakit, hati ini selalu berdebar-debar saat telepon berdering kala bapak dirawat dirumah sakit. Dari kondisi ini aku teringat akan pengalaman temanku Izma yang bercerita tentang
"Noto ATI". Ayah Izma sebelum meninggal beliau mengidap penyakit tahunan, seluruh keluarga sudah berusaha maka di suat saat ibunya mengumpulkan seluruh anaknya dan memberi nasihat
"Kalian sudah tahu penyakit dan kondisi ayah, kita juga sudah berikhtiar namun kita juga harus Noto Ati untuk siap berpisah dengan ayah". Dari cerita itu aku belajar banyak untuk menghadapi saat berpisah dengan bapak.
...kematian juga adalah jalan terbaik bagi setiap manusia yang telah dihisab dosanya melalui sakit yang diderita dan merupakan ladang ibadah bagi yang merawatnya dengan sabar dan yang tidak meratapi hal itu.